Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Berbagi

5 Cara Menulis Konten Blog

Konten blog merupakan sebuah keharusan jika Ladies memutuskan untuk memiliki sebuah blog. Maksudnya? Konten jika

Siput Gonggong yang Bikin Bengong

Ini sih kisahku saat berkunjung ke Batam. Dalam kunjungan kali ini, alhamdulillah kesampaian juga cita-cita  makan siput Gonggong.^__^
Alkisah siput gonggong ini hanya ada di wilayah perairan kepri yang kaya dengan aneka fauna laut lho, terutama di wilayah Batam dan sekitarnya. Kami pergi ke restoran tujuan dengan naik mobil. Kalau di kawasan wisata kita juga bisa sewa mobil secara online jika tak membawa kendaraan pribadi.
Jadi, saat ada undangan menikmati siput gonggong yang bukan sekedar seafood biasa seperti kerang, kepiting, udang, tentu saja tak kusia-siakan kesempatan langka ini.
Sembari menunggu sang siput disajikan, kami pun mendengar kisah mengenai siput gonggong ini.
Jadi biar kata namanya siput, tapi hewan yang tak bisa menggonggong ini hanya hidup di dalam laut. Bukan hewan amfibi atau pun hewan darat. Meskipun sekilas mirip bekicot tapi dia bukan bekicot.
Gonggong dikenal

Si Item Manis dari Tirta Sanita

Selalu ada yang menarik dari setiap kunjunganku ke daerah ini. Saat itu temaram mulai menghinggapi kawasan wisata air panas Tirta Sanita Ciseeng. Aku dan suami berjalan menelusuri kawasan gunung kapur menunggu azan magrib memanggil. Kawasan wisata itu mulai senyap. Para pemondok sudah masuk ke dalam pesanggrahan. Wahan-wahana sudah tutup. Hanya para sekuriti yang terlihat di sana sini seiring pergantian jam kerja.
Dari balik gunung kapur terlihat sesosok ibu berjalan perlahan. Di tangan kanannya dia menjinjing sebuah keranjang plastik berwana hijau muda bertutup daun. Melihat kehadiran kami, dia pun bergegas menghampiri. menawarkan dagangannya. Yang ternyata sudah hampir habis.

"Apa itu, Bu? "
Saya melihat bungkusan makanan mirip lontong tapi daunnya masih hijau segar bagaikan belum dimasak.
"Ini uli, Bu," jelasnya. Dengan sigap dia menyodorkan pada saya.
"Oh, uli. Saya tau, ini dari ketan kan?"
"Benar. Dimakannya dengan ini," dia menyodorkan b…

Dia Bilang Alhamdulillah

Pada suatu pagi saat saya sedang bersepeda menuju lapak penjual nasi uduk, saya melihat seorang kakek sedang menggelar selembar plastik bening yang sudah lusuh dan keriput. Dia menyusun aneka kepingan CD bekas tanpa pembungkus berjejer di atas hamparan plastik tersebut. Saat saya mengamati lebih dekat. Melihat  rambut panjang awut-awutan yang dimilikinya serta pakaian lusuh yang mungkin sudah berbulan-bulan dia pakai, saya yakin, itu kakek tua yang selama ini disangka orang gila oleh warga. Dia sering mangkal di emperan jalan depan SMA sembari memarkir gerobaknya yang penuh barang rombeng. tapi dia bukan penjual barang bekas. Karena saya gak pernah mendengar suaranya berteriak “barang bekas!” seperti para penjual barang bekas lainnya. Dan saya juga tak pernah menangkap ekspresi apapun di wajahnya yang penuh keriput,  kecoklatan dihajar teriknya sinar mentari Jakarta itu. Makanya saya mengasumsikan dia

Si Manis dari Ciseeng

Tanah Ciseeng memang kaya. Siapa menyangka di sini ada manisan pala. Berarti ada pohon pala dong. Kan gak mungkin buah palanya dikirim dari Banda Neira sana :D
Kuliner nostalgia kembali mengharu biru. Jadi ingat saat kecil dulu di kota wisata Bukittinggi ^__^
Setiap pulang ambil uang pensiun, nenekku yang pensiunan kepala sekolah rakyat di zaman kolonial dulu akan mengajak kami mampir di sebuah toko kecil di kampung cina.
Toko ini sangat khas dengan penganan yang ada di dalamnya. Selain cemilan khas tionghoa, juga ada manisan pala. Cemilan kesukaan keluarga kami.
Saat itu manisan pala termasuk makanan langka. Karena selain tak semua orang suka, harganya juga lumayan. Jadi, kami hanya bisa menikmati cemilan kaya khasiat ini sekali sebulan saja, karena jarak rumah dari kampung cinapun tak terlalu dekat.
Dan sungguh tak terduga jika akhirnya setelah merantau sekian lama, kami bertemu salah satu kuliner nostalgia di Ciseeng Parung. Si Manisan Pala ^__^





Saat ditanya pada bapak penjualnya,…

Rambutan Si Buah Cantik Multiguna

Ladies, pasti sudah pada tahu ya kalau Rihanna si penyanyi bersuara cantik itu penyuka buah rambutan?
Wah. Jadi heran kan? Apa sih istimewanya buah berambut merah ini? Di saat banyak diantara kita lebih tertarik dengan buah-buahan impor seperti apel washington, anggur, peach dan sejenisnya,
penyanyi Amerika ini malah terpesona makan rambutan. Salah satu buah dari negeri  tropis yang bahkan tak bisa tumbuh di Amerika sana.
Nah, mau tahu hal apa saja yang membuat rambutan istimewa? Berikut sejumlah keistimewaan buah rambutan:




7 hal yang menarik tentang buah rambutan:
1. Buah rambutan lebih suka tumbuh di daerah tropis yang bersuhu tropis sekitar 25 derajat Celcius.
Tingginya  bisa mencapai  8 meter!

2. Bernama  latin nephelium lappaceum, si cantik berwarna cerah ini hanya bisa ditemukan tersebar di  kawasan tropis seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, Filifina, Vietnam, dan sejumlah pulau-pulau di kawasan asia tenggara.  Meskipun demikian rambutan juga bisa tumbuh di kawasan Afrika, Ka…

Seribu Muka Narkoba

Muda, cakep, penampilan modis, punya pekerjaan, punya kendaraan, santun, sopan, siapa sih yang tak terkesan? Namun siapa nyana dia pengguna narkoba? Urakan, jarang mandi,  ngomong gak diatur, kurang terdidik, wajarlah karena dia gak tamat sekolah karena tersandung masalah biaya. Namun siapa nyana dia pengguna narkoba? Baik, kebapakan, berwibawa, hidup mapan, usia paruh baya, tokoh panutan, punya keluarga harmonis. Namun siapa nyana dia pengguna narkoba? Cantik, muda, ramah, punya karir baik, dari keluarga baik-baik.

Manfaat Celak untuk Kesehatan Mata

Berawal dari keluhan gatal pada kedua kelopak mata, maka saya pun akhirnya bertanya pada simbah (Google) kira-kira apa penyebab derita gatal pada kedua kelopak mata ini.  Jangan tanya mengapa saya tak langsung ke dokter mata. 
Karena tanpa ditanya pun saya akan menjelaskan :D Sebabnya adalah karena saya merasa sudah lebih pinter *gubrak deh hehe :D
Alasannya adalah karena sejarah malapraktek yang sering dialami oleh sejumlah besar anggota keluarga kami. Perbandingan kami bertemu dokter yang bisa diandalkan dengan dokter yang (mungkin lulusnya karbitan) sehingga sering salah diagnosa dan akhirnya pasien menjadi korban itu bisa dikatakan 80:20.