Skip to main content

Bagaimana Cara Menerbitkan Buku Cerita Anak?




Saya telah mengajar banyak anak tentang bagaimana cara menulis cerita anak. Anak-anak merupakan makhluk ciptaan Allah yang luar biasa. Mereka mampu belajar dengan cepat. Mereka juga punya antusiasme yang tinggi. Dan ada beberapa anak yang sudah memiliki bakat alami dalam menulis cerita anak.
Di dalam perjalanan saya mengajar anak dalam menulis cerita anak. Ada beberapa anak yang pemalu. Mereka merasa nggak pede dengan karyanya. Padahal karya mereka bagus dan layak untuk diterbitkan.
Sementara di sisi lain ada pihak orangtua yang sangat ingin karya anak-anak mereka bisa diterbitkan menjadi buku.
Nah, tantangan paling utama di sini adalah bagaimana caranya membuat anak-anak merasa pede dengan karya-karya mereka. Karena mereka menolak untuk menerbitkan karya mereka.
Ini merupakan hal yang tak mudah. Apalagi jika kita bertemu dengan orangtua yang tak sabaran. Mereka ingin semuanya berjalan cepat dan tanpa mempedulikan perasaan si anak, dengan serta merta mengumpulkan karya si anak tanpa mempertimbangkan perasaan mereka.
Di sinilah cara kita menilai sebuah karya harus diperbaiki. Karya merupakan sebuah hal yang bersifat pribadi dan memiliki arti bagi si individu pemilik karya. Berapapun usia mereka. Mereka menulis sebuah cerita dengan perasaan, pikiran dan upaya. Makanya sebuah tulisan disebut sebuah karya. Karya setiap individu cenderung unik mengikuti krakteristik si pembuat karya.
Pertama-tama, anak harus diyakinkan dulu bahwa karya mereka sudah memenuhi syarat untuk dikirim ke penerbit.
Ke penerbit mana karya tersebut akan dikirimkan? Untuk hal ini, kita harus sesuaikan jenis naskah cerita anak dengan penerbit. Pilih penerbit yang menerbitkan naskah cerita anak yang serupa. Kita tidak mungkin mengirimkan naskah cerita anak ke penerbit yang biasanya menerbitkan buku non fiksi. Atau genre berbeda.
Setelah itu anak harus tahu bahwa proses diterbitkannya sebuah buku butuh proses dan tentunya berimbas pada waktu. Mereka harus bisa sabar menunggu. Apalagi kalau buku cerita anak tersebut akan diberi ilustrasi yang banyak.
Jadi, sembari menunggu proses di penerbit. Anak-anak sebaiknya disemangati untuk terus berkarya. Dan di sini bukan hanya tugas guru menulis saja, orangtua juga harus ikut aktif berperan. Semangat terus dan pantang menyerah!

Comments

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini, mohon maaf karena komentar akan dimoderasi dulu. Mohon ditunggu kunjungan balik saya ^__^

Popular posts from this blog

Investasi Cerdas untuk Masa Depan Cerah

“Kek Seno kenapa, Pa?” bisikku penasaran. Punggung pria tetangga depan rumah kami itu semakin menjauh. Mengiringi langkahnya yang terseok masuk kembali ke dalam rumahnya. Suamiku menghela napas berat, “Kasihan sekali Kek Seno, Ma. Dia kehilangan pekerjaannya di pabrik panci. Ada peremajaan karyawan, katanya.” “Iya sih. Aku sudah dengar kabar itu. Tapi kan Kek Seno, dapat pesangon dong!” Suamiku menggeleng. “Lho, masa enggak sih?

Bagaimana Mengajar Anak Menulis Cerita Anak 2

Dear moms, lanjut ya topik kita terkait bagaimana cara mengajar anak bagaimana menulis cerita fiksi. Mengajar anak menulis cerita anak bisa mudah dan bisa susah, itu semua tergantung pada mindset kita sebagai orangtua dan bekal apa yang sudah kita beri pada anak kita sejak mereka lahir.   Gak masalah kok walau kita hanya seorang ibu rumah tangga bukan seorang penulis. Selama kita punya keinginan mulia untuk mendidik anak kita bisa menulis cerita, insha Allah kita harus yakin bahwa semua niat baik akan dimudahkan Allah subhanahu wa ta’ala. Moms, berdasarkan pengalaman saya, modal yang paling utama itu adalah sabar dan konsisten. Dengan kesabaran dan kasih sayang maka anak akan merasa nyaman dan tidak merasa ‘dipaksa’.   ToMaSS dan ATA Berdasarkan pengalaman saya sebagai pengajar di kelas menulis untuk anak-anak usia sekolah dasar, saya kemudian berusaha menyederhanakan cara belajar menulis cerita fiksi untuk anak. Saya merumuskannya dalam dua “rumus” versi saya yaitu ToMaSS

Mengajar Anak Menulis Cerita Anak

Orang tua mana sih yang tak bangga jika anaknya punya kemampuan khusus hingga punya prestasi? Apalagi jika kemampuan tersebut tak dimiliki oleh semua anak atau unik. Salah satunya adalah kemampuan untuk menulis. Dalam hal ini, saya khusus membahas tentang menulis cerita anak yang masuk ke dalam ranah fiksi. Ada tiga kategori tulisan yang kita bisa kenali yaitu karya fiksi, non fiksi dan faksi yang merupakan campuran dari karya fiksi dan non fiksi alias fakta dan fiksi. Nah, kembali pada topik mengajar anak menulis cerita. Berdasarkan pengalaman saya mengajar anak-anak, termasuk anak sendiri, hal yang paling penting adalah tidak memaksa anak. Dianjurkan anak ikut kelas menulis atas keinginan sendiri. Sungguh beruntung jika anak tersebut sudah punya minat dan bakat. Tinggal terus berlatih dan banyak membaca sambil terus didampingi , maka insya Allah karya anak tersebut akan cepat berkembang ke arah yang lebih baik. Dilanjutkan dengan membekali anak dengan ilmu bagaim