Langsung ke konten utama

Selalu Salah

"Dio,Ibu tahu kalau kamu itu bisa berbuat lebih. Tapi mengapa kamu tak melakukannya?"
Dio menundukkan wajahnya, tak tega menatap wajah penuh kecewa gurunya.
"Ibu mau kamu menjelaskan, kenapa? Karena kita sekarang berada di dalam sebuah kompetisi bukan latihan lagi."
"Dio...takut salah, Bu," akhirnya Dio bersuara. "Dio takut salah, lalu akhirnya kalah dan bikin kecewa Ibu guru dan sekolah kita."

                          

                                                                                                   
"Takut salah? Dio..Dio.." Bu Guru menggeleng
. "Di dalam menulis cerita anak tak ada salah dan benar. Bu Guru kan sudah berkali-kali menjelaskan di kelas."
Bu Guru meletakkan tangannya di bahu kiri Dio.
"Kamu mampu, makanya Ibu memilih kamu ikut kompetisi menulis cerita anak antar sekolah."
Sekilas sinar melintas di mata Dio. Rasa percaya dirinya kembali bangkit.
"Benarkah, Bu?"
"Ya," Bu Guru mengangguk.
"Tapi..." mendadak Dio tersurut.
"Ada apa, Dio? Kalau kamu punya masalah bisa kok curhat sama Ibu. Siapa tau Bu Guru bisa bantu."
"Mengapa ya, kalau di rumah Dio selalu salah?" suara Dio tersendat.
Bayangan saat Mama menyalahkannya terasa menyakitkan. Papa juga sering menyalahkan Dio, jika ada hal yang tak disukainya terjadi. Hal itu membuat Dio semakin merasa kalau dirinya selalu salah, hingga akhirnya dia menjadikan buku tulisnya sebagai tempat curhat.
Dua bulir hangat mengalir di pipi yang tirus itu.
Bu Guru memeluk Dio, membiarkan deraian air mata itu jatuh membasahi punggung baju dinasnya.
Ditulis oleh Aira Kimberly
Untuk mengenang Guru terbaik di dunia Zulkimar Marzuki (alm)

English version: 
"Dio, I know that you could do more. But, why?"
Dio could not bear staring at his teacher's disappointed face.
"Please, tell me why? We are in a competition now." 
"I ... I am horrified,"Dio finally voiced. "I don't want to be blamed."
"Blame?"
"Yes, I am afraid of being wrong. And we can loose and I will make you all disappointed." 
"How come?" Mrs.Ima shook her head. "In writing children's stories there is no right and wrong. You just have to write and leave it to the reader." 
Mrs. Ima put her hand on  Dio's shoulder and say,"You're the best student in writing class. That's why I choose you to go to the competition." 
"But ...".
"What's up, Dio? I know there's something wrong with you."
"I..I.. don't ever think that I can do anything welldone,"Dio's voice faltered. "I always blamed."
"Who blamed you?" Mrs. Ima wonders.
"Actually, it's at home. Mom, Dad, and sometime aunties..."  tears fallen down on Dio's cheek.
Mrs. Ima hug the kid and let her official clothes wet by Dio's tears.

Written by Kimberly Aira
To commemorate the best teacher in the world Zulkimar Marzuki <3 <3

Komentar

  1. Pada dasarnya memang mendidik anak itu tidak boleh membuat sang anak merasa selalu salah. Ulasannya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, terimakasih sudah bertamu ke rumah yang sederhana ini :)

      Hapus
    2. Sama-sama, terimakasih sudah bertamu ke rumah yang sederhana ini :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ceritaku (My Story), Misteri Kunci Berbau Wangi

The Story Aira Kimberly
            “Ma, tolong buka pintu gerbangnya ya!” Papa menghentikan mobil persis di depan rumah. “Biar aku saja, Pa!” Andika melesat turun. “Kasihan Mama, kan, capek.” “Ini kuncinya,” Mama menyerahkan serangkaian kunci ke tangan Andika lewat jendela depan. Andika menerimanya lalu bergegas menuju ke gerbang. Rumah terlihat gelap karena lampu-lampu belum dihidupkan. Jalanan yang macet membuat mereka Pulang kemalaman dari acara  keluarga di puncak. Dalam kegelapan malam, tangan Andika meraba-raba mencari gembok. Tetapi aneh, gembok besar yang biasanya dengan mudah ditemukan, tidak ada! Andika merasa curiga. Dia mendorong pintu gerbang itu. “Tidak terkunci!” Andika berseru kaget melihat gerbang itu membuka dengan mudahnya. Mobil yang dikendarai Papa lalu masuk ke dalam halaman. “Trims, sayang!” ucap Mama. “Ma, Pa, sepertinya ada yang aneh, deh,” Andika berkata. “Apanya yang aneh, Dika?” tanya Mama. “Masa pintu gerbangnya enggak dikunci?” “Ah, masa?” Papa bergegas mengecek ke …

PELIT?

Seorang teman bilang,"Mbak Aira pelit!" Ucapan ini sungguh menyentak. Teman ini bilang kalau aku pelit berbagi. Pelit berbagi? Ah, masa sih? Selama ini aku merasa aku ini apalah. 2006 lalu, aku ini apalah saat ikutan gabung di pelataran masjid Salman ITB. Ngaririung bersama teman-teman FLP Bandung. 2007, aku ini apalah saat gabung dengan FLP Jakarta. Masih terkenang saat-saat menimba ilmu penulisan di pelataran masjid Amir Hamzah yang terkenal dengan 'mimazah.' Sayang, masjid ini sudah tak ada bekasnya lagi di Taman Ismail Marzuki.

Jadi Percaya Diri Ngantor dengan Derma Angel

Girls, Mungkin diantara kalian ada yang pernah mengalami masalah jerawat. Tau kan bagaimana galaunya jika si makluk kecil yang nggak imut ini muncul? Saat mau pakai bedak di depan cermin terlihat ada bentol merah di permukaan kulit wajah. Gimana bisa tampil cantik dan percaya diri  jika wajah  mulusmu bertotol jerawat!  *Arrgh.   image:pixabay My Story Kalau dipikir-pikir si jerawat ini jahat juga lho. Dia tak kenal situasi sehingga suka datang di saat yang tidak tepat. Halah.. kapan ya ada saat yang tepat buat nerima jerawat bertamu? Hahaha... Kali ini si jerawat datang menghampiri Fafa putriku. Udah tau si Fafa itu harus selalu dalam penampilan prima setiap hari karena dia kan kerja dan harus ketemu banyak orang di kantor. Tapi si jerawat ini, datang tanpa diundang. Dan entah kenapa dia paling suka mampir ke pipi chubby Fafa. So pastilah Fafa kesel bin mangkel. Baperan gara-gara jerawat bisa bikin mood rusak seharian padahal Fafa kan harus selalu ramah dan tersenyum pada para customer. Ke…