Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Bisnis Makanan Beku Bunda, Babarafionline

“Kyaa..! Roti lagi nih…” wajah Gie yang selalu ceria meredup. “Memangnya kenapa?” Bunda heran. “Bukannya kamu paling suka roti isi coklat?” “Iya sih, Bun. Tapi, sesekali sarapan yang lain dong. Masa  tiap pagi sarapannya ini melulu,” Gie mendesah. “Bener, Bun. Ayah juga mau sarapan selain roti deh sesekali,” Ayah mengerdipkan sebelah matanya ke arah Gie. “Hadeeh! Si Ayah ikutan protes, pala berbie jadi pusing nih kalau begini,” Bunda menghela napas. “Bukannya Bun males masak sarapan yang bervariasi tiap pagi. Tapi Bun sekarang ni lagi kerepotan dikejar deadline.” Bunda memandangi Ayah dan Gie yang hanya mingkem.  “Biasanya pas lagi lowong, Bun kan suka masak nasgor, bubur ayam atau burger…” “Nah, burger, mau tuh Bun! Atau kebab aja sekalian. Udah lama nih gak makan kebab!” Gie penuh  semangat merapatkan kedua belah telapak tangannya. “Idih! Mana ada orang jualan kebab pagi-pagi begini!”

Si Tomat yang Suka Memberi

"Sedihnyaa...'" ujar Hana.  "Apanya yang sedih?" Aiko bertanya tak mengerti. Dari tadi dia lihat Hana asyik dengan tab di tangannya.  "Lihat ini ..." Hana menggamit Aiko untuk mendekat. Hana memperlihatkan layar tab di genggamannya ke arah Aiko. "Para petani marah, mereka membuang semua tomat hasil panenan mereka ke jalanan," Aiko membaca sekilas. Kedua anak itu saling berpandangan.  "Menakutkan! Bukankah itu kufur nikmat namanya?" tanya Aiko. "Mereka sudah diberi rezeki berupa panenan tomat yang mellimpah tapi malah membuangnya ke jalanan. Mubazir!" "Ya. Tapi itu kan karena mereka kesal sebab harga tomat jatuh. Para petani  kan sudah capek menanam tomat tapi mereka malah tidak bisa menjualnya dengan harga yang pantas." "Tapi tetep saja, mereka tidak bersyukur namanya," tegas Aiko. "Tetep, kita liat dulu situasi dan kondisinya bagaimana," Hana mendebat. "Aduh, duh! Pagi-pagi sudah rame …

Kumcer Detektif Pustaka Ola 72

Misteri Kunci Berbau Wangi
Inilah goresan perdanaku di dalam dunia penulisan buku anak yang langsung mendapat apresiasi majalah Bobo. Cerita anak ini mendapat penghargaan dalam Sayembara Menulis Cerita Misteri Majalah Bobo 2009.




Sungguh menyenangkan bisa bersanding bersama nama-nama besar dari dunia penulisan anak ^__^

My Story : Papa Pengganti

“Huuh. Papa payah!” Jerry merengut kesal. Ia ingin pergi ke rumah Bondan, tapi Papa malah menyuruhnya mengerjakan pe­er dulu. Padahal peer kan bisa dikerjakan nanti sepulang dari rumah Bondan. “Kamu harus belajar disiplin dari kecil, Jerry,” Papa menasehati. “Tapi aku sudah janji akan datang jam dua, Pa,” Jerry berusaha menjelaskan. “Nah, itu juga bagus! Kita harus bisa menepati janji yang telah dibuat.” “Jadi. Boleh nih ke rumah Bondan?” tanya Jerry girang. “Tentu saja,” jawab Papa. “Setelah kau tepati dulu jadwal yang kamu tempel di dinding kamar itu,” jawab Papa. Di dalam jadwal itu pada poin nomor tiga tercetak dengan huruf besar bahwa Jerry berjanji akan menyelesaikan dulu semua tugas sekolah dan rumah sebelum pergi main. Dengan badan lemas, Jerry menuju ke meja belajarnya. Tanpa semangat ia mengeluarkan buku dan pulpennya. Namun pikirannya melayang ke tempat lain. Bondan pasti sudah menungguku, pikirnya. Aah, coba aku punya papa seperti papa Bondan. Di pelupuk matanya terbayang papa Bond…