Skip to main content

Hanya Satu Kata untuk Anak-Anak Indonesia

Negara Besar dengan Penduduk Banyak
Indonesia yang merupakan sebuah negara besar dengan wilayah yang luas. Ribuan pulau tersebar di seluruh penjuru nusantara yang tentunya memiliki banyak penduduk di dalamnya. Dan diantara penduduk Indonesia yang banyak ini sudah pasti juga ada anak-anaknya.

Di antara anak-anak ini, ada anak-anak yang beruntung
. Mereka memiliki orangtua lengkap atau pun single parent yang menjaga dan melindungi mereka. Orangtua yang bertanggungjawab dan merawat anak-anak mereka dengan baik.



                                                  sumber foto :  cdn-mediadtvivadotid 
Sisi Minus Kehidupan Anak-Anak Indonesia
Tetapi di sisi lain, ada juga anak-anak yang terpaksa harus hidup di jalanan karena disebabkan oleh berbagai hal. Mungkin karena broken home, faktor kemiskinan, kurangnya ilmu, karena yatim piatu atau salah satunya, diculik, dijadikan korban trafficking dan berbagai penyebab lainnya.  
Masalah kesejahteraan anak-anak bangsa merupakan tanggung jawab kita bersama. Meskipun di dalam undang-undang jelas dikatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab terhadap masalah kesejahteraan anak, namun tanpa partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat, maka hal ini tentu tidak akan mudah.

Cukup Satu Kata
Solusi untuk hal ini cukup satu kata saja “Peduli”.  Dimulai dengan lingkungan terkecil dalam masyarakat yaitu warga.

Contoh kasus:
Di dekat rumah saya, ada anak yatim piatu bernama Bib (nama samaran)
Bib kehilangan ibunya karena si ibu sakit parah dan akhirnya meninggal. Saat itu Bib kelas 3 SD. Saat masih kelas satu sekolah dasar, ayah Bib juga meninggal karena sakit paru-paru.

Karena  shock sebagai anak yatim piatu dan juga dari kalangan ekonomi lemah, Bib sering di-bully di sekolah. Akhirnya Bib nggak sekolah lagi. Bib sering main di bengkel motor dan berbaur dengan montir di sana. Di sana Bib belajar tentang servis motor, dan Bib juga ngojek di sekitar sana.
Saya dapat info bahwa Bib sudah nggak sekolah lagi dari putri saya yang satu sekolahan dengan Bib. Akhirnya saya mengajak Bib bicara, bertanya kenapa dia nggak mau sekolah lagi? Dia hanya menggeleng dan tersenyum. Ya, memang anak-anak seusia itu juga kalau beda karakter beda sifat ya. Ada yang mau curhat ada yang enggak.

Akhirnya saya beri pendekatan melalui kakak perempuan Bib. Saya ceritakan mengenai PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Saya ceritakan nilai plusnya kalau Bib bisa  lanjut sekolahnya walau hanya tiga kali seminggu belajar di PKBM. Karena kemungkinan besar, anak yang sudah terbiasa nggak masuk sekolah lima hari dalam seminggu akan kesulitan untuk kembali ke bangku sekolah.




                                              sumber foto : fauziepdotblogdetikdotcom

Akhirnya Bib mau ke PKBM setelah kakaknya memberi dia penjelasan. Alhamdulillah setahun kemudian Bib tamat dan mendapat ijazah paket A. Sekarang Bib bersiap untuk ijazah paket B nya.

Bahkan bukan hanya Bib yang terinspirasi, para pekerja di bengkel pun jadi termotivasi untuk ke PKBM. Mereka berharap dengan adanyanya ijzah Paket C yang setara dengan ijazah SMA negeri itu, mereka bisa  meningkatkan taraf hidup mereka dengan bekerja di jalur formal. Atau bahkan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Bib mampu menginspirasi mereka yang lebih tua usianya.
Moral of the story adalah… “Peduli.”



                                                          sumber foto : kreatifcaredotcom

Jika ada saja satu saja dari ratusan warga yang “Peduli”. Lalu kemudian berkoordinasi dengan RT dan RW. Maka bukan hanya satu Bib saja yang terselamatkan. Tapi ratusan atau ribuan Bib lainnya.
Saran saya, dirikanlah PKBM disetiap kelurahan. Lalu dirikanlah minimal satu rumah singgah di setiap RW khususnya di kota-kota besar. Lalu dengan berkoordinasi dengan warga,  anak-anak terlantar maupun yang mukim di rumah sangat sederhana di data. Anak-anak yang tak punya rumah  disarankan untuk bermukim di rumah singgah milik RW.  

Disana, anak-anak terlantar tak hanya sekedar ditampung tanpa diberi kegiatan. Libatkan mereka dalam kegiatan kemasyarakatan. Misalnya acara tujuh belasan atau acara-acara lainnya.
Beri mereka bekal pendidikan, misalnya ada warga yang pendidik atau bisa mengajar, minimal sekali seminggu menyumbangkan ilmunya ke sana. Kalau ada warga yang terlalu sibuk, silahkan menyumbang uangnya saja.

Bikin program untuk anak-anak tersebut yang lebih berbasis pendalaman keahlian. Misalnya ada anak yang suka musik, beri dia pelajaran menyanyi atau memainkan alat musik. Nggak mungkin kan satu diantara sekian banyak warga di satu RW gak bisa main alat musik?
Bila ada anak yang suka mengarang, ajari dia menulis cerita dengan baik, siapa tau kelak dia akan menjadi pengarang besar.
Jika ada anak yang suka masak, ajari dia keterampilan hidup untuk menjadi seorang juru masak terampil.


                                                       sumber foto : alfamartkudotcom

Sementara untuk bidang pendidikan formal. Anak-anak seperti itu adalah anak-anak yang berjiwa bebas. Mereka tidak akan mungkin bisa duduk tenang lima hari dalam seminggu di dalam kelas. Yang paling penting adalah, mereka bisa baca tulis, lalu  ajak mereka ke PKBM di kelurahan. Bukankah setiap kelurahan seharusnya memiliki PKBM?

Selain belajar di PKBM, skill mereka juga terasah sesuai bakat atau talenta yang mereka miliki. Jangan lupa beri mereka bekal agama. Sesuai dengan agama mereka masing-masing.

3 kunci ini bisa menjadi bekal mereka untuk masa depan yang lebih baik, yaitu :
1. Memiliki keterampilan sesuai minat dan talenta masing-masing.
2. Memiliki ijazah pendidikan formal melalui PKBM di setiap kelurahan.
3. Memiliki akhlak baik sesuai agama pilihan masing-masing.

Dengan dukungan seluruh masyarakat dan pemerintah Indonesia, semoga ketiga hal diatas ini bisa tercapai demi masa depan anak bangsa yang lebih baik.  


By Aira Kimberly

Comments

  1. jadi PKBM ini bukan program pemerintah ya makk.. harus melalui arak arak an warga ==> RT ==> RW. Begitu? wowww... *take a deep breathe*. HOW can I do that by myself? I would, if they could.


    http://beautyasti1.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. PKBM ini memang program pemerintah mak Asti. Kalau arak-arak an warga ini khusus utnuk solusi masalah anak-anak terlantar :)

    ReplyDelete
  3. indah sekali hidup ya mba jika bisa terus berbagi..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini, mohon maaf karena komentar akan dimoderasi dulu. Mohon ditunggu kunjungan balik saya ^__^

Popular posts from this blog

Investasi Cerdas untuk Masa Depan Cerah

“Kek Seno kenapa, Pa?” bisikku penasaran. Punggung pria tetangga depan rumah kami itu semakin menjauh. Mengiringi langkahnya yang terseok masuk kembali ke dalam rumahnya. Suamiku menghela napas berat, “Kasihan sekali Kek Seno, Ma. Dia kehilangan pekerjaannya di pabrik panci. Ada peremajaan karyawan, katanya.” “Iya sih. Aku sudah dengar kabar itu. Tapi kan Kek Seno, dapat pesangon dong!” Suamiku menggeleng. “Lho, masa enggak sih?

Mengajar Anak Menulis Cerita Anak

Orang tua mana sih yang tak bangga jika anaknya punya kemampuan khusus hingga punya prestasi? Apalagi jika kemampuan tersebut tak dimiliki oleh semua anak atau unik. Salah satunya adalah kemampuan untuk menulis. Dalam hal ini, saya khusus membahas tentang menulis cerita anak yang masuk ke dalam ranah fiksi.
Ada tiga kategori tulisan yang kita bisa kenali yaitu karya fiksi, non fiksi dan faksi yang merupakan campuran dari karya fiksi dan non fiksi alias fakta dan fiksi.
Nah, kembali pada topik mengajar anak menulis cerita. Berdasarkan pengalaman saya mengajar anak-anak, termasuk anak sendiri, hal yang paling penting adalah tidak memaksa anak. Dianjurkan anak ikut kelas menulis atas keinginan sendiri.
Sungguh beruntung jika anak tersebut sudah punya minat dan bakat. Tinggal terus berlatih dan banyak membaca sambil terus didampingi, maka insya Allah karya anak tersebut akan cepat berkembang ke arah yang lebih baik.
Dilanjutkan dengan membekali anak dengan ilmu bagaimana menulis cerita anak y…

Belajar Bersama di Kuliah Online Universitas Terbuka

Universitas Terbuka atau lebih kita kenal dengan UT ini, merupakan Perguruan Tinggi negeri ke 45 di Indonesia.UT diresmikan pada tanggal 4 September 1984 dengan berdasarkan kepada Keputusan Presiden RI No. 41 Tahun 1984. Nah, dalam rangka milad ke 30 tahun UT, dengan dedikasi dan pengalamannya yang sudah teruji, Universitas Terbuka mempersembahkan Kuliah Terbuka Online. Targetnya adalah masyarakat luas dari segala lapisan.Kalau saya sih semangat sekali bisa ikut karena Rasulullah saw kan menyuruh kita untuk belajar sepanjang hayat :)  Yuks, bagi yang berminat aku bagi infonya disini ;)
Step 1 : Kita masuk dulu ke laman MOOC UT, yaitu dengan cara klik link berikut :                                                                    http://moocs.ut.ac.id/ 

kemudian klik tulisan Login berwarna biru muda di sudut kanan atas. Maka akan keluar tampilan berikut : 

Ada permintaan akan Username dan password jika Anda hendak melanjutkan masuk ke dalam laman ini. Namun jika Anda baru berkunjung…