Skip to main content

Si Manis dari Ciseeng

 Tanah Ciseeng memang kaya. Siapa menyangka di sini ada manisan pala. Berarti ada pohon pala dong. Kan gak mungkin buah palanya dikirim dari Banda Neira sana :D
Kuliner nostalgia kembali mengharu biru. Jadi ingat saat kecil dulu di kota wisata Bukittinggi ^__^
Setiap pulang ambil uang pensiun, nenekku yang pensiunan kepala sekolah rakyat di zaman kolonial dulu akan mengajak kami mampir di sebuah toko kecil di kampung cina.
Toko ini sangat khas dengan penganan yang ada di dalamnya. Selain cemilan khas tionghoa, juga ada manisan pala. Cemilan kesukaan keluarga kami.
Saat itu manisan pala termasuk makanan langka. Karena selain tak semua orang suka, harganya juga lumayan. Jadi, kami hanya bisa menikmati cemilan kaya khasiat ini sekali sebulan saja, karena jarak rumah dari kampung cinapun tak terlalu dekat.
Dan sungguh tak terduga jika akhirnya setelah merantau sekian lama, kami bertemu salah satu kuliner nostalgia di Ciseeng Parung. Si Manisan Pala ^__^






Saat ditanya pada bapak penjualnya, harganya bener-bener ruarr biasa! Hanya tujuh ribu lima ratus rupiah untuk buah pala yang pake gula. Dikeringin pake oven menurut penjelasan si Bapak. Dan hanya lima ribu rupiah sebungkus untuk manisan pala basah yang terdiri atas tiga pilihan warna.
Jangan khawatir dengan zat pewarnanya karena semuanya merupakan zat pewarna makanan. Saya hanya bisa terkagum-kagum. Bagaiman si Bapak bisa terus menjual dengan santainya ya. Apa ada keuntungan yang didapat dari dagangan semurah itu? Harga gula pasir sekilo aja berapa coba. Sementara buah pala keringnya bertabur gula pasir.
Rezeki itu udah ada yang ngatur, biasanya jawabannya demikian ya. Dan sepertinya memang hal itu saja yang bisa menjelaskan. karena kalau menggunakan logika, aku nggak ngerti gimana ngitung HPP dan BEP ala si Bapak penjual manisan pala :D

Comments

Popular posts from this blog

Investasi Cerdas untuk Masa Depan Cerah

“Kek Seno kenapa, Pa?” bisikku penasaran. Punggung pria tetangga depan rumah kami itu semakin menjauh. Mengiringi langkahnya yang terseok masuk kembali ke dalam rumahnya. Suamiku menghela napas berat, “Kasihan sekali Kek Seno, Ma. Dia kehilangan pekerjaannya di pabrik panci. Ada peremajaan karyawan, katanya.” “Iya sih. Aku sudah dengar kabar itu. Tapi kan Kek Seno, dapat pesangon dong!” Suamiku menggeleng. “Lho, masa enggak sih?

Bagaimana Mengajar Anak Menulis Cerita Anak 2

Dear moms, lanjut ya topik kita terkait bagaimana cara mengajar anak bagaimana menulis cerita fiksi. Mengajar anak menulis cerita anak bisa mudah dan bisa susah, itu semua tergantung pada mindset kita sebagai orangtua dan bekal apa yang sudah kita beri pada anak kita sejak mereka lahir.   Gak masalah kok walau kita hanya seorang ibu rumah tangga bukan seorang penulis. Selama kita punya keinginan mulia untuk mendidik anak kita bisa menulis cerita, insha Allah kita harus yakin bahwa semua niat baik akan dimudahkan Allah subhanahu wa ta’ala. Moms, berdasarkan pengalaman saya, modal yang paling utama itu adalah sabar dan konsisten. Dengan kesabaran dan kasih sayang maka anak akan merasa nyaman dan tidak merasa ‘dipaksa’.   ToMaSS dan ATA Berdasarkan pengalaman saya sebagai pengajar di kelas menulis untuk anak-anak usia sekolah dasar, saya kemudian berusaha menyederhanakan cara belajar menulis cerita fiksi untuk anak. Saya merumuskannya dalam dua “rumus” versi saya yaitu ToMaSS

Mengajar Anak Menulis Cerita Anak

Orang tua mana sih yang tak bangga jika anaknya punya kemampuan khusus hingga punya prestasi? Apalagi jika kemampuan tersebut tak dimiliki oleh semua anak atau unik. Salah satunya adalah kemampuan untuk menulis. Dalam hal ini, saya khusus membahas tentang menulis cerita anak yang masuk ke dalam ranah fiksi. Ada tiga kategori tulisan yang kita bisa kenali yaitu karya fiksi, non fiksi dan faksi yang merupakan campuran dari karya fiksi dan non fiksi alias fakta dan fiksi. Nah, kembali pada topik mengajar anak menulis cerita. Berdasarkan pengalaman saya mengajar anak-anak, termasuk anak sendiri, hal yang paling penting adalah tidak memaksa anak. Dianjurkan anak ikut kelas menulis atas keinginan sendiri. Sungguh beruntung jika anak tersebut sudah punya minat dan bakat. Tinggal terus berlatih dan banyak membaca sambil terus didampingi , maka insya Allah karya anak tersebut akan cepat berkembang ke arah yang lebih baik. Dilanjutkan dengan membekali anak dengan ilmu bagaim