Langsung ke konten utama

Si Kuji via Nusantara Bertutur di Kompas Klasika




7/7/2014
Suatu kehormatan bagiku saat mendapat info dari mbak Haya, bahwa dongeng ini dimuat di Kompas Klasika yang bekerjasama dengan Nusantara Bertutur ^__^
Namun sesungguhnya aku masih merasa belum puas dengan karyaku ini. Bukan pada ceritanya tapi lebih pada editingnya yaitu penggunaan kata-katanya, so gak ada salahnya kan aku  tulis ulang demi memuaskan hati sendiri? Hihihi :D Apalagi pas menulis dongeng ini memang pas bertepatan dengan deadline (kebiasaan buruk yang harus dibuang jauh-jauh!)
Yuk dibaca! :)


Kuji Si Baik Hati
oleh 
Aira Kimberly

Kuji si kumbang kotoran, mulai mengisi harinya. Pagi itu di hutan Alas Roban, Kuji berniat mengumpulkan banyak bola kotoran untuk mengisi gudang bawah tanah. 
Penuh semangat, Kuji terus mengelindingkan bola demi bola kotoran. Meskipun bola kotoran itu beratnya bisa mencapai limapuluh kali lebih berat daripada bobot Kuji.
Saking semangatnya tanpa sadar, dia melewati gerombolan semut hitam.
“Idih, bau!” Sera, salah semut meledek Kuji.
Kuji pun berhenti, “Apa katamu?”
“Bau! Kamu jorok, bermain-main dengan kotoran!” tukas Sera.
“Aku tidak sedang bermain-main, bola-bola kotoran ini akan menjadi persediaan pangan di gudang,” jelas Kuji.
Tetap, jangankan menerima penjelasan Kuji, mereka malah terus mengejeknya.
Kuji merasa sedih karena para  semut itu tak mau mengerti apalagi mau diajak berteman.
“Sudahlah Kuji, jangan sedih. Kan ada aku. Aku mau berteman denganmu,” Won si tawon terbang menghampiri.
“Teruskanlah pekerjaanmu. Kau ini rajin dan tekun. Andai saja aku bisa membantumu.”
“Ah, tidak usah Won. Kamu kan tidak punya tangan sepertiku,” Kuji mengangkat kedua lengannya yang kuat dan panjang. “Bukankah, Allah menciptakan setiap  makhluk dengan bentuk tubuh yang sesuai dengan kebutuhannya?”
“Wah, ucapanmu sungguh bijak, Kuji,” puji Won.
“Ah, kamu bisa saja Won,” Kuji tersipu.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan hiruk pikuk di belakang mereka.  
“Ada apa ya?” Kuji dan Won berpandangan heran.  
Mereka langsung terbang menuju sumber keriuhan itu.
Ternyata, di sarang semut hitam  ada seekor belalang raksasa yang berusaha merampas  simpanan makanan milik para semut.   
“Hei, jangan!” Kuji menghampiri. “Para semut sudah bersusah payah mengumpulkan makanan untuk persediaan mereka.”
“Apa sih...” Belalang bermaksud  hendak melawan Kuji. Namun begitu mencium aroma  Kuji, dia langsung lari tunggang langgang.
“Horee!” kawanan semut sangat senang melihatnya.
 Dengan perasaan malu dan menyesal, mereka menghampiri Kuji untuk  meminta maaf.
 Selesai

Nah, menurut putraku Zaidan (9th) dia lebih suka membaca dongengnya di Kompas Klasika. Lain lagi Gie (5th) yang semangat sekali nonton video Si Kuji yang dibawakan oleh Kak Resha dan Otan di 




Komentar

  1. Saya pernah membaca ide cerita yang sama. Hebatnya dirimu bisa mengolah dengan gaya bahasa dan jalan cerita yang berbeda. Ketika membaca cerita ini saya tetap semangat. Mak kalau dongeng itu bagian dari genre fantasikah?

    Oh ya anakku waktu kecil senang sekali cerita bertutur. Sekarang ia sudah tidak melakukan padahal itu asetya. Sayangnnya ia belum mau menulis. AKu tidak pernah melakukan mengamati tokoh dan karakter kartun gamenya. Kalau ia senang melihat di Wiki mengulik hal itu.

    BalasHapus
  2. Waah, ternyata Kuji punya maksud baik ya. Hihi, senangnya...

    BalasHapus
  3. Wah, pujian mak Tri Sapta (37 Mw) membuatku mengawang nih :P Saya masih belajar mak, terbiasa menulis non fiksi membuatku harus belajar banyak agar luwes di jalur fiksi. Dirimu juga bisa kok ;)

    BalasHapus
  4. Asy-syifaa, namanya aja Kuji Si Baik Hati ;) Hehe :D

    BalasHapus
  5. Pengen doong dongengku di muat kayak gitu mak, hihi.. #ngarep

    BalasHapus
  6. mak Hani bisa kirimkan dongeng-dongeng karyamu ke Nusantara Bertutur :)

    BalasHapus
  7. Cerita ini sederhana, tapi sarat makna. Hebat nih ceritanya bisa masuk media :)

    BalasHapus
  8. Wow keren...saya pingin banget bisa bikin yang seperti ini Mak. Sederhana tapi mengena. Mengena ceritanya, mengena juga di media :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mak Sri :) Dirimu tentu bisa ;)

      Hapus
  9. aku mw bacain cerita ini ke anakku utk dongeng sblm tidur ah ;) kdg suka pusing tiap malam hrs nyari cerita apa lg utk dibacain kdia ;p udh beli buku dongeng pdhl... tp lama2 stoknya abis juga hiihihi..

    iya mba, kdg hasil editing itu ga memuaskan ya.. aku jg prnh ngalamin.. 2 cerita ku yg dimuat di novel THE HOSTEL2, jd rada aneh baca kalimat2nya -_- tp mw gmn lagi... udh publish juga ;p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow dirimu juga penulis mbak? Keren! Kalau sudah biasa nulis tentu bisa dong menciptakan dongeng-dongeng ciamik sebelum tidur untuk si buah hati ;)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ceritaku (My Story), Misteri Kunci Berbau Wangi

The Story Aira Kimberly
            “Ma, tolong buka pintu gerbangnya ya!” Papa menghentikan mobil persis di depan rumah. “Biar aku saja, Pa!” Andika melesat turun. “Kasihan Mama, kan, capek.” “Ini kuncinya,” Mama menyerahkan serangkaian kunci ke tangan Andika lewat jendela depan. Andika menerimanya lalu bergegas menuju ke gerbang. Rumah terlihat gelap karena lampu-lampu belum dihidupkan. Jalanan yang macet membuat mereka Pulang kemalaman dari acara  keluarga di puncak. Dalam kegelapan malam, tangan Andika meraba-raba mencari gembok. Tetapi aneh, gembok besar yang biasanya dengan mudah ditemukan, tidak ada! Andika merasa curiga. Dia mendorong pintu gerbang itu. “Tidak terkunci!” Andika berseru kaget melihat gerbang itu membuka dengan mudahnya. Mobil yang dikendarai Papa lalu masuk ke dalam halaman. “Trims, sayang!” ucap Mama. “Ma, Pa, sepertinya ada yang aneh, deh,” Andika berkata. “Apanya yang aneh, Dika?” tanya Mama. “Masa pintu gerbangnya enggak dikunci?” “Ah, masa?” Papa bergegas mengecek ke …

PELIT?

Seorang teman bilang,"Mbak Aira pelit!" Ucapan ini sungguh menyentak. Teman ini bilang kalau aku pelit berbagi. Pelit berbagi? Ah, masa sih? Selama ini aku merasa aku ini apalah. 2006 lalu, aku ini apalah saat ikutan gabung di pelataran masjid Salman ITB. Ngaririung bersama teman-teman FLP Bandung. 2007, aku ini apalah saat gabung dengan FLP Jakarta. Masih terkenang saat-saat menimba ilmu penulisan di pelataran masjid Amir Hamzah yang terkenal dengan 'mimazah.' Sayang, masjid ini sudah tak ada bekasnya lagi di Taman Ismail Marzuki.

Jadi Percaya Diri Ngantor dengan Derma Angel

Girls, Mungkin diantara kalian ada yang pernah mengalami masalah jerawat. Tau kan bagaimana galaunya jika si makluk kecil yang nggak imut ini muncul? Saat mau pakai bedak di depan cermin terlihat ada bentol merah di permukaan kulit wajah. Gimana bisa tampil cantik dan percaya diri  jika wajah  mulusmu bertotol jerawat!  *Arrgh.   image:pixabay My Story Kalau dipikir-pikir si jerawat ini jahat juga lho. Dia tak kenal situasi sehingga suka datang di saat yang tidak tepat. Halah.. kapan ya ada saat yang tepat buat nerima jerawat bertamu? Hahaha... Kali ini si jerawat datang menghampiri Fafa putriku. Udah tau si Fafa itu harus selalu dalam penampilan prima setiap hari karena dia kan kerja dan harus ketemu banyak orang di kantor. Tapi si jerawat ini, datang tanpa diundang. Dan entah kenapa dia paling suka mampir ke pipi chubby Fafa. So pastilah Fafa kesel bin mangkel. Baperan gara-gara jerawat bisa bikin mood rusak seharian padahal Fafa kan harus selalu ramah dan tersenyum pada para customer. Ke…