Langsung ke konten utama

Ceritaku (My Story), Misteri Kunci Berbau Wangi

The Story
Aira Kimberly

            “Ma, tolong buka pintu gerbangnya ya!” Papa menghentikan mobil persis di depan rumah.
“Biar aku saja, Pa!” Andika melesat turun. “Kasihan Mama, kan, capek.”
“Ini kuncinya,” Mama menyerahkan serangkaian kunci ke tangan Andika lewat jendela depan.
Andika menerimanya lalu bergegas menuju ke gerbang. Rumah terlihat gelap karena lampu-lampu belum dihidupkan. Jalanan yang macet membuat mereka Pulang kemalaman dari acara  keluarga di puncak.
Dalam kegelapan malam, tangan Andika meraba-raba mencari gembok. Tetapi aneh, gembok besar yang biasanya dengan mudah ditemukan, tidak ada!
Andika merasa curiga. Dia mendorong pintu gerbang itu.
“Tidak terkunci!” Andika berseru kaget melihat gerbang itu membuka dengan mudahnya.
Mobil yang dikendarai Papa lalu masuk ke dalam halaman.
“Trims, sayang!” ucap Mama.
“Ma, Pa, sepertinya ada yang aneh, deh,” Andika berkata.
“Apanya yang aneh, Dika?” tanya Mama.
“Masa pintu gerbangnya enggak dikunci?”
“Ah, masa?” Papa bergegas mengecek ke gerbang. Ternyata gembok besar itu memang tidak ada di sana.
            Papa bergegas menuju ke pintu depan rumah. Dia memutar gagang pintu yang langsung terbuka. Pintu itu juga tidak terkunci!
Mereka bertiga bergegas masuk ke dalam rumah. Papa menghidupkan lampu ruang tamu. Tetapi saat cahaya menerangi, ruangan itu kosong melompong. Mama menangis karena kaget.
“Tenang, Ma. Tenang, Papa akan telepon polisi,” Papa menenangkan.
“Aku ambilkan air minum buat Mama, deh,” Andika berjalan menuju ke dapur, ternyata dapur juga kosong melompong. Pencuri itu tidak menyisakan satu barang pun. Untung Andika ingat kalau di dalam mobil masih ada sebotol air mineral yang disediakan Papa untuk diminum  di jalan.
Andika keluar dan masuk ke dalam mobil tepat saat mobil polisi berdatangan memasuki halaman rumah. Polisi berseragam lalu lalang di dalam rumah sementara Papa didampingi Mama juga sibuk menjawab pertanyaan polisi.
“Ma, minum dulu biar agak tenang,” Andika menyodorkan botol air mineral ke arah Mama yang kelihatan agak pucat.
“Terimakasih, sayang,” Mama menerima botol itu dan minum beberapa tegukan.
“Jadi, Anda sekeluarga baru pulang dari Puncak?” Bapak polisi berkumis tebal itu bertanya.
“Benar, Pak,” jawab Papa.
“Dan saat Anda pulang ternyata rumah ini telah kosong melompong?”
“Ya,” Papa mengangguk.
“Apakah ada seseorang yang kira-kira Anda curigai?”
Papa dan Mama berpandangan terdiam.
“Apakah Bapak dan Ibu memiliki pembantu rumah tangga?” Pak polisi kembali bertanya.
“Ada, Pak. Namanya Mbak Atik, tetapi sekarang sedang pulang kampung,” Papa menjelaskan.
Polisi mencatat semua isi percakapan itu di dalam buku catatan. Andika duduk dalam diam mendengarkan percakapan di antara polisi dan orangtuanya. Gemerincing kunci di dalam sakunya menyadarkan Andika. Dia mengeluarkan kunci itu. Hidung Andika mencium sesuatu yang berbau wangi. Mendadak dia merasa mual. Kunci itu berbau wangi yang membuat Andika merasa mual. Soalnya, bau parfum melatinya terlalu menusuk hidung. Tiba-tiba Andika ingat, itu kan bau sabunnya Mbak Atik?
Ia bergegas menemui salah seorang polisi bernama Pak Bowo dan menceritakan tentang kunci yang berbau wangi itu. Ternyata bau wangi itulah kunci jawaban dari peristiwa pencurian itu. Rupanya, Mbak Atik mencetak kunci di sabunnya. Lalu diduplikasi di tukang kunci.
Seminggu kemudian polisi Bowo datang ke rumah untuk memberitahukan bahwa Mbak Atik dan teman-temannya telah ditangkap. Barang bukti yang mereka sembunyikan di sebuah rumah di pinggir kota, juga sudah ditemukan.
Selesai

Komentar

  1. Kumcer Bobo salah satu buku favoritku. Terutama yang tema detektif. Yang ini tulisanmu ya, Mak?

    BalasHapus
  2. Keren Mbak Aira. Selamat :)
    Sama kayak Mbak Haya, saya suka cerita detektif kalo cerita anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims. Cerita detektif itu menantang ya hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELIT?

Seorang teman bilang,"Mbak Aira pelit!" Ucapan ini sungguh menyentak. Teman ini bilang kalau aku pelit berbagi. Pelit berbagi? Ah, masa sih? Selama ini aku merasa aku ini apalah. 2006 lalu, aku ini apalah saat ikutan gabung di pelataran masjid Salman ITB. Ngaririung bersama teman-teman FLP Bandung. 2007, aku ini apalah saat gabung dengan FLP Jakarta. Masih terkenang saat-saat menimba ilmu penulisan di pelataran masjid Amir Hamzah yang terkenal dengan 'mimazah.' Sayang, masjid ini sudah tak ada bekasnya lagi di Taman Ismail Marzuki.

Jadi Percaya Diri Ngantor dengan Derma Angel

Girls, Mungkin diantara kalian ada yang pernah mengalami masalah jerawat. Tau kan bagaimana galaunya jika si makluk kecil yang nggak imut ini muncul? Saat mau pakai bedak di depan cermin terlihat ada bentol merah di permukaan kulit wajah. Gimana bisa tampil cantik dan percaya diri  jika wajah  mulusmu bertotol jerawat!  *Arrgh.   image:pixabay My Story Kalau dipikir-pikir si jerawat ini jahat juga lho. Dia tak kenal situasi sehingga suka datang di saat yang tidak tepat. Halah.. kapan ya ada saat yang tepat buat nerima jerawat bertamu? Hahaha... Kali ini si jerawat datang menghampiri Fafa putriku. Udah tau si Fafa itu harus selalu dalam penampilan prima setiap hari karena dia kan kerja dan harus ketemu banyak orang di kantor. Tapi si jerawat ini, datang tanpa diundang. Dan entah kenapa dia paling suka mampir ke pipi chubby Fafa. So pastilah Fafa kesel bin mangkel. Baperan gara-gara jerawat bisa bikin mood rusak seharian padahal Fafa kan harus selalu ramah dan tersenyum pada para customer. Ke…