Langsung ke konten utama

Writers of the World, Enid Blyton



                                             Enid Blyton


"Menjadi anak, berpikir seperti anak,  menulis seperti anak," inilah resep yang digunakannya   dalam meramu bacaan anak. Tak heran 45 tahun setelah  wafat pun, buku-buku anak karyanya masih terus dicetak dan dibaca oleh anak-anak di seluruh penjuru dunia.
 Sehingga wajar jika kita bertanya, "siapa sih yang tak kenal penulis bacaan anak ini?"
Enid Blyton wanita kelahiran London ini telah menghasilkan 10.000 cerpen, 700 lebih buku bacaan anak, dan karyanya diterbitkan dalam 30 lebih bahasa dunia.
Enid lahir di dalam sebuah keluarga yang utuh hingga akhirnya harus menemui kenyataan pahit pada usia 13 tahun.  Orangtuanya berpisah. Enid muda yang sensitif dan sangat dekat dengan ayahnya  jadi  kehilangan figur yang dekat dengannya itu. Apalagi selama ini ayahnyalah yang sangat mendukung minat Enid dalam menulis.
Theresa, ibunda Enid membawa ketiga anaknya pindah ke   Beckenham.   Enid diharapkan menjadi seorang musisi karena ibunya menganggap kegiatan menulis itu hanyalah buang waktu. Namun Enid yang merasa yakin dengan pilihannya tak menyerah. Dia terus menulis dan mengirimkan puisi, cerpen dan artikel yang ditulisnya ke berbagai media.
Akhirnya pada tahun 1917 puisinya yang berjudul Have You dimuat di majalah  Nash's. Diikuti  dengan terbitnya buku kumpulan puisi berjudul Child Whispers tahun 1922.
Enid terus menulis hingga novel petualangan anak pertamanya terbit pada tahun 1934 berjudul The Secret Island. Karya demi karya berikutnya terbit dan banyak yang menjadi kisah populer seperti  serial Lima Sekawan yang terkenal itu.
Perang Dunia II bahkan tak menghentikan penerbit  untuk terus mencetak buku-buku Enid. Empat puluh tahun berkarya bukannya tanpa cela. Meski dihujani pujian, Enid juga dikritisi oleh sejumlah kalangan. Namun semua tak mampu menghentikan kenyataan bahwa karya-karya Enid mampu menimbulkan minat baca anak-anak di seluruh penjuru dunia.

by Aira Kimberly

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ceritaku (My Story), Misteri Kunci Berbau Wangi

The Story Aira Kimberly
            “Ma, tolong buka pintu gerbangnya ya!” Papa menghentikan mobil persis di depan rumah. “Biar aku saja, Pa!” Andika melesat turun. “Kasihan Mama, kan, capek.” “Ini kuncinya,” Mama menyerahkan serangkaian kunci ke tangan Andika lewat jendela depan. Andika menerimanya lalu bergegas menuju ke gerbang. Rumah terlihat gelap karena lampu-lampu belum dihidupkan. Jalanan yang macet membuat mereka Pulang kemalaman dari acara  keluarga di puncak. Dalam kegelapan malam, tangan Andika meraba-raba mencari gembok. Tetapi aneh, gembok besar yang biasanya dengan mudah ditemukan, tidak ada! Andika merasa curiga. Dia mendorong pintu gerbang itu. “Tidak terkunci!” Andika berseru kaget melihat gerbang itu membuka dengan mudahnya. Mobil yang dikendarai Papa lalu masuk ke dalam halaman. “Trims, sayang!” ucap Mama. “Ma, Pa, sepertinya ada yang aneh, deh,” Andika berkata. “Apanya yang aneh, Dika?” tanya Mama. “Masa pintu gerbangnya enggak dikunci?” “Ah, masa?” Papa bergegas mengecek ke …

PELIT?

Seorang teman bilang,"Mbak Aira pelit!" Ucapan ini sungguh menyentak. Teman ini bilang kalau aku pelit berbagi. Pelit berbagi? Ah, masa sih? Selama ini aku merasa aku ini apalah. 2006 lalu, aku ini apalah saat ikutan gabung di pelataran masjid Salman ITB. Ngaririung bersama teman-teman FLP Bandung. 2007, aku ini apalah saat gabung dengan FLP Jakarta. Masih terkenang saat-saat menimba ilmu penulisan di pelataran masjid Amir Hamzah yang terkenal dengan 'mimazah.' Sayang, masjid ini sudah tak ada bekasnya lagi di Taman Ismail Marzuki.

Jadi Percaya Diri Ngantor dengan Derma Angel

Girls, Mungkin diantara kalian ada yang pernah mengalami masalah jerawat. Tau kan bagaimana galaunya jika si makluk kecil yang nggak imut ini muncul? Saat mau pakai bedak di depan cermin terlihat ada bentol merah di permukaan kulit wajah. Gimana bisa tampil cantik dan percaya diri  jika wajah  mulusmu bertotol jerawat!  *Arrgh.   image:pixabay My Story Kalau dipikir-pikir si jerawat ini jahat juga lho. Dia tak kenal situasi sehingga suka datang di saat yang tidak tepat. Halah.. kapan ya ada saat yang tepat buat nerima jerawat bertamu? Hahaha... Kali ini si jerawat datang menghampiri Fafa putriku. Udah tau si Fafa itu harus selalu dalam penampilan prima setiap hari karena dia kan kerja dan harus ketemu banyak orang di kantor. Tapi si jerawat ini, datang tanpa diundang. Dan entah kenapa dia paling suka mampir ke pipi chubby Fafa. So pastilah Fafa kesel bin mangkel. Baperan gara-gara jerawat bisa bikin mood rusak seharian padahal Fafa kan harus selalu ramah dan tersenyum pada para customer. Ke…